CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 17 Maret 2012

Aku Menunggumu


“Afwan (maaf) Ukhti[1], semoga ini tidak melukai Anti [2] dan keluarga Anti . Ana [3] pikir sudah saatnya Ana memberi keputusan tentang “proses” kita. Ya…, seperti yang Antiketahui bahwa selama ini Ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara mulai dari memahamkan konsep nikah “versi” kita, memperkenalkan Anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling ayah percaya untuk membujuk ayah agar mengizinkan Ana untuk menikahi Anti .”
“Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak, jadi menurutAna…, sebaiknya Ana mundur saja dari “proses” ini!” Dana diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga beberapa detik tidak ada tanggapan. “Perlu Anti ketahui bahwa orang tua Ana sebenarnya sudah tidak keberatan dengan Anti hanya saja Timing-mya (waktu) belum tepat. Ayah Ana khawatir Ana tidak mampu menafkahi Anti jika belum bekerja. Apalagi Anti juga masih kuliah. Jadi Ana rasa, ahsan (lebih baik) kita nggak komitmen dulu hingga keadaannya membaik! Anti nggak keberatan kan Ukhti?”
“Keberatan…? Alhamdulillah nggak! Namun kalau Ana boleh kasih saran, apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sambil tetap proses saja. Soalnya kan kita sudah mantap satu sama lain, nggak enak kalau mundur di saat seperti ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai mengerucut ke arah ma’isyah (penghasilan) saja.
“Anta [4] pasti masih ingat gimana sulitnya awal kita membujuk orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam waktu 2 minggu kita bisa menghilangkan semua syarat menjadi satu syarat saja: PEKERJAAN!”
Dini, gadis tegar itu akhirnya bicara juga. “Akhi [5]…,kita hanya tinggal selangkah, tetaplah ber-ikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?”
“Benar, Ana paham soal itu, Ana memang akan tetap melobi orang tua Ana, akan tetapi kalau kita terikat, Ana khawatir menghalangi Anti proses dengan ikhwan lain yang lebih selevel dibanding Ana. Lagi pula Ana khawatir tidak bisa menjaga hati”.
“Takut menghalagi Ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu kan urusan Allah bukan urusan Anta! Kewajiban Anta sekarang adalah berjuang mempertahankan sesuatu yangAnta sudah mantap dengannya. Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikannya saja.”
Hening sejenak….
“Ya….tapi kalau memang Akhi sudah merasa syak (ragu) terhadap Ana dan mantap untuk mundur, Alhamdulillah. InsyaAllah Ana akan dukung sepenuhnya”.
“Nggak!!” Reflek Dana berteriak.
“Astaghfirullahaladzim, Afwan (maaf) maksud Ana, Ana sama dengan keluarga Ana sudah tidak syak pada Anti , kami sangat menyukai Anti dan keluarga Anti . Selain itu Ana juga takut perasaan ini semakin mendalam, Ana ini hanya hamba yang dhaif (lemah) yang masih kesulitan mengekang hawa nafsu”.
Dana berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu pada Allah atas kelalaiannya, jatuh cinta!
“Halo…!!” Dini merasa Dana diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi padanya. “Ya udah…, kalau begitu sekarang kita sepakat untuk membatalkan “proses” ini!!! Setelah ini insyaallah kita tidak akan lagi berhubungan kecuali untuk keperluan syar’i yang sangat darurat, iya kan?”
Dini sengaja memberi jeda agar Dana bicara, tapi ikhwan itu memilih terus diam “Akhi …kita tetap baik ya! Hubungan dengan keluarga harus tetap dijaga, jangan suudzdzon pada ayah dan bunda karena bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu dari jalan Allah untuk menguji kita”. Dini berhenti lagi tapi Dana masih enggan berkomentar.
“Laa Tahzan, ya Akhi …, insyaallah kalau kita niatkan semuanya demi keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar. Afwan jika selama proses ta’aruf ini…Ana, teman-teman, dan keluarga Ana banyak melakukan kekhilafan. Ana mewakili mereka dan diri Ana sendiri untuk memohon maaf pada Anta. Bersabarlah karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…” Samar, Dini mendengar isak tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…

Ayah..Engkau Lebih Berharga Dari Uang Itu..


Salah satu da’i berkata, “Ada seorang laki-laki memiliki hutang, dan pada suatu hari datanglah kepadanya pemilik hutang, kemudian mengetuk pintunya. Selanjutnya salah seorang putranya membukakan pintu untuknya. Dengan tiba-tiba, orang itu mendorong masuk tanpa salam dan penghormatan, lalu memegang kerah baju pemilik rumah seraya berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, bayar hutang-hutangmu, sungguh aku telah bersabar lebih dari seharusnya, kesabaranku sekarang telah habis, sekarang kamu lihat apa yang kulakukan terhadapmu hai laki-laki?!
Pada saat itulah sang anak ikut campur, sementara air mata mengalir dari kedua matanya saat dia melihat ayahandanya ada pada kondisi terhina seperti itu.
Dia berkata,”Berapa hutang yang harus di bayar ayahku?’
Dia menjawab,”Tujuh puluh ribu real.”
Berkata sang anak,”Lepaskan ayahku, tenanglah, bergembiralah, semua akan beres.”
Lalu masuklah sang anak kekamarnya, dimana dia telah mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai 27 ribu Real dari gajinya untuk hari pernikahan yang tengah ditunggunya. Akan tetapi dia lebih mementingkan ayahanda dan hutangnya daripada membiarkan uang itu di lemari pakaiannya. Sang anak masuk ke ruangan lantas berkata kepada pemilik hutang, “Ini pembayaran dari hutang ayahku, nilainya 27 ribu Real, nanti akan datang rizki, dan akan kami lunasi sisanya segera dalam waktu dekat Insya Allah.”
Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta kepada lelaki itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya, dan dia tidak punya dosa dalam hal ini. Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya, dan hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.
Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, “Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu, segala sesuatu akan diganti jika Allah azza wa jalla memanjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan ‘afiyah. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi, seandainya saya memiliki segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkan kepadanya, dan saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari kedua mata ayah di atas jenggot ayah yang suci ini.”
Lantas sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesegukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufiq kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu.”
Pada hari berikutnya, saat sang anak sedang asyik melaksanakan tugas pekerjaannya, salah seorang sahabatnya yang sudah lama tidak dilihatnya datang menziarahinya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang keadaannya, sahabat tadi bertanya,
“Akhi (saudaraku), kemarin, salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?”
Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata,
“Mudah-mudahan ini adalah do’a ayah, Allah azza wa jalla telah mengabulkannya.”
Maka dia pun banyak memuji Allah azza wa jalla. Pada waktu pertemuan di sore harinya, tidaklah manajer tersebut melihat kecuali dia merasa tenang dan sangat percaya kepadanya, dan berkata,
“Inilah laki-laki yang tengah kucari.”
Lalu dia bertanya kepada sang anak, “Berapa gajimu?”
Dia menjawab, “Mendekati 5 ribu Real.”
Dia berkata, “Pergi besok pagi, sampaikan surat pengunduran dirimu, gajimu 15 ribu Real, bonus 10% dari laba, dua kali gaji sebagai tempat dan mobil, dan enam bulan gaji akan di bayarkan untuk memperbaiki keadaanmu.”
Tidaklah pemuda itu mendengarnya, hingga dia menangis sambil berkata, “Bergembiralah wahai ayahku.”
Manajer pun bertanya kepadanya tentang sebab tangisannya. Maka pemuda itu pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari sebelumnya. Maka manajer itu pun memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Adalah hasil dari labanya pada tahun pertama, tidak kurang dari setengah milyar Real Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan terbesar, dan bentuk taqarrub kepada Allah azza wa jalla yang teragung.
Dengan berbakti kepada keduanya rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan. Dan Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Israa’. 23]
Di dalam shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Kukatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kukatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” [HR.al Bukhari & Muslim]
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang atas kalian Uwais bin ‘Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhiNya. Maka jika kamu mampu dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah.” [HR. Muslim]
Ini pula Hiwah bin Syuraih, dia adalah salah seorang Imam kaum muslimin dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya mengajar manusia. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya. Maka suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, “Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan kajian.
Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, bahwasanya termasuk pintu-pintu sorga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka janganlah kehilangan pintu tersebut, bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya termasuk diantara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia akhirat.
Aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum muslimin untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a`lam

My Home Mystery

Kira2 tanggal 20.11.07 ibu gw bangun dari tidurnya karena mendengar suara yang berasal dari tangga, suara itu memanggil2 nama ibu gw 3x. Tanpa fikir panjang ibu gw langsung turun untuk melihat asal dari suara itu. Pas sesampainya di tangga rumah, ibu gw heran karena gk ada siapa2 di sana. Dengan kebingungan ibu gw kembali ke kamarnya dan melihat jam, ternyata jam menunjukkan pukul 01 dini hari. Ibu gw mulai merinding dan mencoba untuk tidur.
Tak begitu lama ibu gw merasa kebelet ingin buang air. Karena sangat gk tahan, ibu gw pun keluar dari kamar dan berjalan ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ibu gw merasa ada yang meniup mukanya, seperti nafas yang panas. Dengan sangat kaget ibu gw langsung berlari ke kamar.

Tapi pas di dapur, ibu gw tiba2 berhenti karena ada satu sosok yang berdiri kaku di depan ambang pintu, sosok yang berbalut kain kafan lusuh dan putih kotor, dengan muka yang (mhasya Alloh) masih tersisa kapas mata hampir copot, berbau amis darah. Dengan pemandangan itu ibu gw terkesima sejenak dan langsung lemas hingga akhirnya tidak sadarkan diri. Paginya saya menemui ibu saya sedang tergeletak di dapur. Beliau menceritakan semua itu kepada saya dan nenek saya siangnya.

Sekian cerita dari saya, kapan2 saya sharre lagi.

Dikejar Hantu Jaelangkung

Mulailah malam itu aku mengumpulkan bahan-bahan yang mungkin terlihat aneh bagi teman2ku yang tidak pernah mainan jaelangkung. Bahan membuat jaelangkung itu bahan dasarnya sebagian besar aku kumpulkan dari makam desa, terdiri dari kayu/bambu, keranjang, kapur, batok biasa disebut siwur (kebetulan yang kudapat pernah untuk memandikan jenasah), dan baju bekas.

Nah seluruh yang kudapat di makam akhirnya kurangkai tanpa paku tapi pakai kawat/bendrat dan yang satu bahan tambahan di dalam boneka jaelangkung itu kuisikan tanah kuburan yang sudah aku mantrai yang berasal dari kuburan paling kuno yang sudah tidak terawat lagi, biar joss kataku waktu itu dalam hati he..he..he...

Sebelum jaelangkung itu dimainkan, aku membuat suatu ritual kecil2an yang harus dimulai dengan melagukan tembang Jawa namanya ilir-ilir sambil dibakari kemenyan dibawah jaelangkung yang digantung dibawah pohon di makam itu. Setelah selesai, jaelangkungpun dimainkan dipegangi dua orang teman. Dengan sedikit konsentrasi, jaelangkungpun bergoyang dan mulai menulis nama, dsb. Singkat cerita, malam itu benar2 heboh. Banyak sekali pertanyaan kita yang bisa dijawab dengan tangkas dan lucu oleh jaelangkung. Dan akhirnya setelah jam 3 pagi kita sudahi permainan.

Karena sangking udah ngantuknya, aku pun bergegas tidur. Tapi... sekitar 15 menit aku tertidur aku seperti dicolek orang sambil bersuara melenguh... huh...huuuh...huuh... Sontak aku kaget dan otomatis melek. Dalam hatiku, aku bertanya "Ini suara siapa ya?". Kulihat sekeliling kamarku yang gelap. Astaghfirullhah... aku benar-benar kaget setengah hidup!

Ternyata kulihat sosok pocong yang ongkang2 kaki di atas lemari. "Waaah... gawat ini pasti jaelangkung tadi", pikirku. Langsung aja ku terjang pintu, aku keluar dari kamarku gelagapan. Kupanggil kawanku di kamar sebelah "Didik... bangun Dik...". Untung pintunya langsung dibuka, dia nanya "Ada apa? ". "Ah enggak" jawabku saat itu. "Aku tidur di kamarmu ajalah, besok aja aku cerita..."

Paginya kuceritakan sama kawan-kawanku, tapi reaksi mereka malahan habis ketawain aku. "Nasiib... nasiib... kayaknya tuh yang punya tanah kuburan yang ku ambil buat mainan jaelangkung marah" kataku dalem hati. Menyadari itu semua, segera bahan jaelangkung akhirnya kukembalikan lagi ke makam tua itu. Yang jelas semenjak itu aku udah kapok...

Hantu Nancy di SMA 5 Bandung

Mungkin kalian sering mendengar cerita tentang hantu NANCY di SMA 5 Bandung dan misteri rumah gurita di jalan Pasteur, Bandung dekat hotel Grand Aquila. Ya! Itu memang sudah jadi urban legend di kota kembang ini. Singkatnya, bila kalian meragukan kebenaran cerita tersebut, Zip pastiin buat kalian, cobalah :) Keraguan pasti terbayar.

Seperti yang Zip alami sendiri 3 minggu yang lalu...

Ketika itu, zip berkumpul bersama teman2 sekitar 6 orang di cafe BOBER riau. Saat itu kita benar2 merasa bosan, hingga salah seorang teman zip berkata, "Ke SMA 5 yuk. Penasaran euy, sama yang namanya NANCY itu". Lalu zip yang waktu itu memang sedang dalam kondisi baru putus (waw..) membuat adrenalin tertantang, sebagai pelarian akan rasa yang masih menghantui...

Singkat cerita, kami yang tergabung dalam 
club EXO FAM`S (Promo dikit :p) ini, menyetujui usulan teman kami tersebut dan pergi untuk membayar rasa penasaran kami. Setibanya di areal SMA 5, kami mengatur sedikit rencana. "Sip! Semua siap" tegas ketua club kami. Motor pun dinyalakan dan kami mulai berjalan memutari areal SMA 5 tersebut. Putaran pertama, kami berteriak "NANCY ... NANCY ..." seraya memperhatikan jendela-jendela tua khas bangunan belanda zaman dulu.

Nihil !!! adalah hasil yang kami dapat. Dinginnya malam semakin menusuk di kota kembang. Zip dan teman-teman merasa bahwa masih ada yang kurang. Zip berkata pada teman-teman untuk melakukan pemanggilan itu tepat di depan gerbang SMA 5, dimana posisi gedung tepat menghadap kami. "Saksi bisu sejarah di tepi zaman, kupikir dalam hati".

Setelah siap, kami mulai melakukan pemanggilan tersebut. "NANCY !.. NANCY !.. NANCY !.." teriak kami. Keheningan areal SMA 5, menyelubungi kami. Tidak ada respon sedikitpun dari "rasa penasaran" yang ingin kami pecahkan. Suasana mulai mencekam ketika kami memanggil untuk yang ke 5 kalinya. Udara yang menusuk tulang, berikut angin yang tiba2 hanya muncul di area gerbang SMA 5, tiba2 menghampiri kami.

"Krieeet.. BRAAAAK.. ". Pintu jendela yang tinggi tersebut tiba2 terbuka, dengan sangat keras. Dan, jendela yang terbuka tersebut, TEPAT DI JENDELA KE 12 DAN 13 !! (bukan sesuatu hal yang spesifik memang). Kami yang sempat tercengang dengan kejadian itu, tiba2 seperti tersugesti namun nyata, bahwa akan ada yang keluar dari jendela tersebut, dan itu BENAR !!

Terlihat oleh zip, sesosok wanita remaja, dengan baju zaman belanda (ini mungkin bisa disebut sugesti atau pun khayalan karena suasana, namun saat itu, mata zip menafsirkan ia seperti yang zip paparkan). Sosok perempuan yang kulihat itu hanya terlihat bagian kepalanya saja sampai setengah badan, meski tak sampai 1/2 Menit karena kami mulai dikuasai rasa takut kami, dan kami menjalankan motor kami dalam kecepatan yang bisa dibilang tinggi.

Setelah menjauh karena suasana yang mulai tidak bagus, kami pun merasa cukup. Tetapi setelah berdiskusi sejenak, adrenalin kami kembali tertantang ketika salah seorang dari kami mengucapkan "RUMAH GURITA". Ya, itu akan menjadi perjalanan kami sesudah dari sekolah yang angker itu, yang akan Zip ceritakan nanti.

NB : mungkin pengalaman zip ini terasa kurang mencekam untuk pembaca, namun zip ceritakan apa adanya, dalam konteks ini, zip merasakan dan mengingat untuk zip ceritakan pada kalian. Maaf apabila cerita ini sedikit membuat kalian kecewa karena ketegangannya yang kurang. Ini kami lakukan ketika waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB.

AYIK

Mimpi Janggal

Nama w Ita, kira-kira satu minggu yang lalu w mimpiin ini, semua orang yang ada di mimpi ini w kenal tapi ada satu orang yang gak w kenal ..
Dimimpi itu, w berasa ada di sebuah aula besar dengan semua teman-teman sekolah w disana, waktu itu kakak kelas yang anggota OSIS nyuruh kita berbaris keluar dari ruangan, teman w yang nama singkatannya AS bilang ke w,"Ta, u disuruh ambil stiker sama FF!"

"Oke," segera w menhampiri FF, dia suruh w bagiin stiker buat ditempel dibaju gitu. Pas keluar, w liat semua teman-teman w udah pada rapih dibarisan masing-masing. Tapi DO tiba-tiba bilang sama w,"Ta, w mo pergi sebentar ya w mau cek apa isi surat ini bener ato gak, nanti lo kasih tau yang lain ya.""Iya," setelah itu w liat DO berlari ke depan gerbang (di aula itu ada halaman besar yang menghadap ke jalan setapak ke arah atas).

"Baik adek-adek, sekarang kita mau absen satu per satu dulu ya," kata FF. "Dulu waktu pertama kali ke daerah sini saya pernah lihat kalau rombongan teman- teman saya waktu itu naik keatas, diatas, nanti jalanan akan dibagi dua, waktu itu saya lihat rombongan itu ke arah kanan, terus saya ikutin mereka pas selang beberapa menit saya ga lihat mereka sama denger suara mereka padahal saya sudah berlari sambil meneriaki mereka, tetapi tidak ada orang, karena takut akhirnya saya kembali ke aula dan bertemu dengan rombongan yang paling pertama berangkat, mereka bilang kalau rute menuju curug yang kami tuju lebih mudah jika melewati jalur kiri, kalau yang kanan terlalu berbahaya jadi tidak ada rombongan dari sekolah kami yang melewati jalur kanan." Saat itu w langsung inget DO, saat diabsen nama dia gak ada, trus w bilang kalo w liat dia lari ke arah jalan setapak yang menuju ke curug itu.

Kita semua cepet-cepet menyusul DO ke atas, karena berasa bertanggung jawab, w lari
terus ke arah atas dan akhirnya w sampe, disana w liat OD lagi memasukan badannya ke dalam pohon yang telah bolong dan terisi penuh oleh air. Samar-samar w mendengar suara anjing yang melolong, w lari lagi buat narik DO dari situ, soalnya air dari curug itu terus-menerus menghantam pohon bolong itu, semakin dekat dengan pohon, w liat ada bapak-bapak gak dikenal yang berdiri percis disamping DO, mukanya kurang jelas karena ia sedang menengok ke arah OD yang berada di dekat kakinya.

Cepat-cepat w teriak memanggil namanya OD. tiba-tiba si bapak-bapak itu malah mendekat ke arah w, w menutup mata w, terus w denger ada orang yang meneriaki nama w, badan w juga berasa seperti digoncang-goncang, w langsung membuka mata w rupanya temen w yang menggoncang badan w, terus bapak-bapak yang tadi mendekat sudah gak ada, katanya guru w yang entah dengan cara apa bisa mengusir bapak-bapak itu. Terus w melihat OD duduk diatas pohon itu, matanya menatap kosong kayak orang bengong, terus pas ditanya dia mau cek apa, dia bilang kalau dia udah lupa, dan juga gak tau kenapa tiba-tiba bisa ada disini.

Maaf ya kalau ceritanya panjang dan berbelit-belit tapi gak serem, mohon memaklumi bila ada salah kata,dsb. (namanya juga baru pertama kali )

Note from Admin: Mohon maaf kepada Sis Ita. Cerita kamu tidak saya publish dalam satu halaman karena saya rasa itu hanya sekedar mimpi. Apabila ada hal mistis yang terjadi berkaitan dengan mimpi ini silahkan kirim kembali ceritanya beserta penjelasan tambahan. Terima kasih sebelumnya.